MJO (Madden-Julian Oscillation): Berada pada Fase 6 (Western Pacific) yang aktif secara spasial di NTB, berkontribusi pada pembentukan awan hujan lebat, angin kencang, dan potensi cuaca ekstrem, Indeks SOI menunjukan nilai yang mendukung aktivitas pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia begitupun indeks NINO3.4 berpengaruh terhadap peningkatan pola konvektif di sebagian wilayah Indonesia. Suhu muka laut di wilayah NTB khususnya Pulau Sumbawa cukup hangat, sehingga meningkatkan potensi terjadinya penguapan yang memasok uap air di wilayah tersebut. Kelembapan Udara Relatif (RH) Kondisi udara cenderung sangat basah di seluruh lapisan (850 mb hingga 500 mb) dengan nilai RH mencapai 90% di lapisan rendah, mendukung pertumbuhan awan konvektif. Angin wilayah NTB bergerak dari Barat Laut. Secara umum prakiraan angin lapisan 3000ft di wilayah Sumbawa bertiup dengan variasi arah dominan dari Barat Laut dengan kecepatan maksimum mencapai 48 knot, Indeks labilitas menunjukan nilai yang sangat labil, Citra satelit menunjukkan adanya pertumbuhan awan konvektif di wilayah Sumbawa. Suhu puncak awan di wilayah kejadian berkisar antara (-69) – (-100) °C. Berdasarkan pantauan dari data radar cuaca produk MAX pada tanggal 23 Januari 2026 menunjukkan sekitar pukul 00.00 s.d. 05.00 WITA. terdapat nilai reflektifitas >40 dbz dan terdapat nilai angin 10 – 30 Knot di wilayah Kab. Sumbawa dan sekitarnya. Terdapat MJO berada di Fase 6 dan aktif secara spasial di wilayah NTB, yang meningkatkan suplai massa udara basah dan pertumbuhan awan hujan di wilayah NTB dan Adanya aktivitas gelombang Low Frequency di wilayah NTB memperkuat pembentukan awan hujan. Terdapat Bibit Siklon Tropis “91S” di Samudera Hindia Selatan NTB dan Bibit Siklon Tropis “92P” di Teluk Carpentaria, dengan Kecepatan angin maksimum sekitar 15knot (28 km/jam)
Klik disini jika halaman pdf dibawah ini di tampil